“kok takuik jo
ujuang badia, pai bana ka pangkanyo”
Salam budaya, akan
diadakan bincang – bincang seni rupa
murni terkini bersama
Da Pan ( Bang Stefan Buana ) di ruang sidang fakultas
seni rupa dan desain.
Eksistensi dari
perupa padangpanjang saat ini layak nya cuaca padangpanjang yang dingin. Sebuah
eksistensi tidak akan ada artinya jika
tak terlihat. Eksitensi merupakan pengupayaan untuk terlihat, “Tak terlihat
bukan berarti tak ada”. Tantangan muncul untuk melakukan membuktikan eksistensi
yang selama ini tak terlihat agar dilihat kembali bak pepatah minang mambangkik batang tarandam, muncul banyak
spekulasi untuk kembali menghidupkan semangat seni rupa. Tak pelak lagi salah
satu sacara dari pembuktian eksistensi itu sendiri melalui sebuah pameran seni
rupa di yogyakarta. Kota yang menjadi center dari perkembangan seni rupa secara
khususnya. Menjemput yang tak terlihat, terbawalah hal-hal yang perlu untuk
dibuktikan eksistentsinya melalui seni rupa. Ketika menjemput dan terbawa di
gabungkan memiliki definisi yang sangat luas dan memanggil jiwa muda untuk
berpartisipasi dalam membuktikan eksistensi dari seni rupa murni di
padangpanjang
Menjemput terbawa
dalam bahasa minang menjadi “manjapuik
tabaok”. Ketika kata tersebut dibawakan melalui bahasa minang memiliki
spirit perjuangan tersendiri.
Maulana ahlan M. Nur (krikle)
Diskusi hangat bersama:
Stefan Buana ( Seniman )
Rahmad Dani ( MHS Seni ISI )
Hidayat Kincie ( MHS Seni ISI )
Ade Herman ( MHS Seni ISI )
Imam Teguh ( MHS Seni ISI )
Maulana Ahlan ( Kurator )
Ridho Tullah ( MHS Seni ISI )