Minggu, 30 Agustus 2015

“kok takuik jo ujuang badia, pai bana ka pangkanyo”
















“kok takuik jo ujuang badia, pai bana ka pangkanyo”


Salam budaya, akan diadakan bincang – bincang  seni rupa murni terkini bersama
 Da Pan ( Bang Stefan Buana ) di ruang sidang fakultas seni rupa dan desain.

Eksistensi dari perupa padangpanjang saat ini layak nya cuaca padangpanjang yang dingin. Sebuah eksistensi tidak akan  ada artinya jika tak terlihat. Eksitensi merupakan pengupayaan untuk terlihat, “Tak terlihat bukan berarti tak ada”. Tantangan muncul untuk melakukan membuktikan eksistensi yang selama ini tak terlihat agar dilihat kembali bak pepatah minang mambangkik batang tarandam, muncul banyak spekulasi untuk kembali menghidupkan semangat seni rupa. Tak pelak lagi salah satu sacara dari pembuktian eksistensi itu sendiri melalui sebuah pameran seni rupa di yogyakarta. Kota yang menjadi center dari perkembangan seni rupa secara khususnya. Menjemput yang tak terlihat, terbawalah hal-hal yang perlu untuk dibuktikan eksistentsinya melalui seni rupa. Ketika menjemput dan terbawa di gabungkan memiliki definisi yang sangat luas dan memanggil jiwa muda untuk berpartisipasi dalam membuktikan eksistensi dari seni rupa murni di padangpanjang

Menjemput terbawa dalam bahasa minang menjadi “manjapuik tabaok”. Ketika kata tersebut dibawakan melalui bahasa minang memiliki spirit perjuangan tersendiri.

Maulana ahlan M. Nur (krikle)


Diskusi hangat bersama: 

Stefan Buana    ( Seniman )
Rahmad Dani    ( MHS Seni ISI )
Hidayat Kincie  ( MHS Seni ISI )
Ade Herman      ( MHS Seni ISI )
Imam Teguh      ( MHS Seni ISI )
Maulana Ahlan  ( Kurator )
Ridho Tullah     ( MHS Seni ISI )